Udah ditulis males buat posting, nulis ajah pating pecothot….hehehehe
Tersenyum ketika merasakan bahwa dunia ini penuh keanehan. Penuh dengan persepsi dan segala macam sudut pandang. Dimana tidak perlu untuk disalahkan dan dipaksakan. Namun, hanya dengan hati, kita dapat merasakan dimana letak kebenaran masing-masing.
Pendidikan yang menjadi impian dan idaman orang tua menjadi tolok ukur derajat anaknya. Pendidikan yang tinggi mencerminkan keluarga yang pintar, bermartabat, dan dapat meningkatkan derajat keluarga. Di sisi lain, pendidikan menjadi jalan untuk mempermudah mencari jodoh, kerja, dan berujung pada uang.
Namun, apa bukti kelulusanmu? Bukti bahwa diri siap dan sudah layak menjadi seorang sarjana? Beraneka macam jawaban yang mungkin muncul. Mulai dari surat tanda kelulusan, skripsi, tittle yang menghiasi nama, hingga jawaban yang nyleneh.
Bagiku, seorang sarjana tidak hanya memerlukan bukti-bukti diatas. Seorang sarjana adalah seorang yang dapat memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat. Dapat memberi andil dalam peningkatan derajat kesejahteraan masyarakat. Entah derajat kesehatan bagi mahasiswa kesehatan, derajat ekonomi bagi mahasiswa ekonomi, derajat lain pada masing-masing diri mahasiswa.
Selama ini masyarakat hanya menjadi objek penelitian, yang tak lain hanya sebagai kelinci percobaan mahasiswa dalam penentuan bukti kelulusan mereka. Bukan manfaat yang dapat mereka beri pada masyarakat, namun hanya bagaimana mahasiswa dapat secepatnya lulus. Habis manis sepah dibuang… Peribahasa yang pantas untuk diucapkan. Tak sedikit hasil dari penelitian skripsi atau tugas akhir mahasiswa hanya berakhir di perpustakaan hingga usang. Tak dapat terealisasi hanya sebagai pikiran sesaat.
Sedih memang, pikiran-pikiran akademis yang tidak menyentuh sama sekali masyarakat Indonesia. Padahal setiap mahasiswa jika berorientasi pada masyarakat maka Negara ini akan makmur. Mahasiswa hingga Universitas yang notabene tersebar se-Indonesia seharusnya dapat memberi kontribusi positif bagi masyarakat minimal disekitarnya. Jika mereka-mereka (mahasiswa) bersatu maka akan banyak kontribusi positif bagi masyarakat. Dan masyarakat akan merasa terbantu.
Di sisi lain, pengajar atau dosen yang akademistis, yang hanya berkutat pada teori-teori yang ada, menjadi sebuah pemicu. Apalagi sampai membatasi pikiran mahasiswa. Huh! sangat tidak relefan dengan hidup. Ndak bangga jika hal ini terjadi. Apakah ilmiah hanya untuk kaum ilmiah atau akademis? Hanya bisa tersenyum… Ndak bermanfaat…
Buat apa seorang sarjana berpikir kalau hanya untuk memenuhi kelaparan perut sendiri? Dimana mata dapat melihat masyarakat sekitar butuh bantuan…
Buat apa seorang sarjana berhias tittle pada nama, jika hanya bermodal skripsi yang nantinya akan lapuk…
Buat apa membangga-banggakan sarjana, jika hal itu mudah diraih tapi sulit dibuktikan bahwa memang layak.
Kembali lagi, banggakah diri disebut sarjana tanpa memberi andil positif?
Pendidikan hanya berkutat pada dunianya, padahal banyak permasalahan dan hal lain yang perlu dipikirkan untuk kemajuan bersama. Ego pendidikan yang mengatasnamakan ilmiah/sains. Penuh dengan teori dan kekolotan, penuh trik dan intrik penguasa, penuh dengan syarat dan mudharat.
Kasihan oh sungguh kasihan…