Saat gundah dan bingung meresap dalam hati. Tak kuasa menahan diri untuk mengekang angkara. Hingga akhirnya meluap dan terpecahkan. Sepi dan hening bagian dari akhir. Keterpaksaan menghimpit diri menuju punah. Dimana kita bisa sedikit menitipkan helai hati yang telah layu. Kesal dan lelah setelah tiap detik bekerja.
Hati-hatiku selalu menuntun pada ketenangan. Tapi mengapa setelah hatiku butuh kasih selalu saja ku berpaling? Bisakah ku merasa? Bisa kah ku meraba. Menemukan kesejatian bahwa diriku saling membutuhkan?
Ego merajai, di setiap diri manusia. Nafsu menjadi murka karena angkara. Terbelenggu dan senantiasa membelenggu. Menuai kebosanan dan memetik keangkuhan. Jiwa manusia telah bangkit. Melaju bagai kereta kuda tak bertuan. Tak berirama dan tak berdaya. Menepi hingga akhirnya terjatuh.
Sakit pelajaran nyata yang bisa dirasa. Mencoba meneroboh kokohnya dinding batin. Melukai sisi hati yang lembut. Menggores sebirat sembilu. Mengucur darah dan menetes. Mencetak jejak sesal yang dalam pada tanah berpasir. Memerah dan mulai mengering. Mengeras bagai batu yang sangat padat.
Jiwa berontak, nyawa bergerak. Tergerak mendekati irama Illahi. Mengucap Asma Nya yang senantiasa suci. Hati terketuk dari kantuk yang telah merajam. Terbelalak mata batin melihat siksa. Hingga akhirnya merintih dan menangis dalam kekonyolan.
Tiap sisi bernilai dan bermakna. Tiap dimensi berisi dan berbentuk. Sekarang aku dalam kekosongan. Melamunkan pikir dan melayangkan pandang. Mencoba menemukan kesejatian hidup yang selama ini mencoba terungkap seiring detak detik sang waktu.
Akhir bukan sejatinya akhir. Melainkan awal dari kekosongan. Permulaan dari pencarian baru. Yang membutuhkan pengorbanan hingga nyawa taruhannya.
February 19, 2009 at 4:56 am |
Saat hati mulai berontak
By ndokceplok
Saat gundah dan bingung meresap dalam hati. Tak kuasa menahan diri untuk mengekang angkara. Hingga akhirnya meluap dan terpecahkan. Sepi dan hening bagian dari akhir. Keterpaksaan menghimpit diri menuju punah. Dimana kita bisa sedikit menitipkan helai hati yang telah layu. Kesal dan lelah setelah tiap detik bekerja.
Hati-hatiku selalu menuntun pada ketenangan. Tapi mengapa setelah hatiku butuh kasih selalu saja ku berpaling? Bisakah ku merasa? Bisa kah ku meraba. Menemukan kesejatian bahwa diriku saling membutuhkan?
MalaikatEgo merajai, di setiap diri manusia. Nafsu menjadi murka karena angkara. Terbelenggu dan senantiasa membelenggu. Menuai kebosanan dan memetik keangkuhan. Jiwa manusia telah bangkit. Melaju bagai kereta kuda tak bertuan. Tak berirama dan tak berdaya. Menepi hingga akhirnya terjatuh.
Sakit pelajaran nyata yang bisa dirasa. Mencoba meneroboh kokohnya dinding batin. Melukai sisi hati yang lembut. Menggores sebirat sembilu. Mengucur darah dan menetes. Mencetak jejak sesal yang dalam pada tanah berpasir. Memerah dan mulai mengering. Mengeras bagai batu yang sangat padat.
Jiwa berontak, nyawa bergerak. Tergerak mendekati irama Illahi. Mengucap Asma Nya yang senantiasa suci. Hati terketuk dari kantuk yang telah merajam. Terbelalak mata batin melihat siksa. Hingga akhirnya merintih dan menangis dalam kekonyolan.
Tiap sisi bernilai dan bermakna. Tiap dimensi berisi dan berbentuk. Sekarang aku dalam kekosongan. Melamunkan pikir dan melayangkan pandang. Mencoba menemukan kesejatian hidup yang selama ini mencoba terungkap seiring detak detik sang waktu.
Akhir bukan sejatinya akhir. Melainkan awal dari kekosongan. Permulaan dari pencarian baru. Yang membutuhkan pengorbanan hingga nyawa taruhannya.